Senin, 01 Oktober 2012

LAPORAN HASIL KONSELING dan PSIKOTERAPI ANAK





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
               Setiap anak yang lahir ke dunia, sangat rentan dengan berbagai masalah. Masalah yang dihadapi anak, terutama anak usia dini, biasanya berkaitan dengan gangguan pada proses perkembangannya. Bila gangguan tersebut tidak segera di atasi maka akan berlanjut pada fase perkembangan berikutnya yaitu fase perkembangan anak sekolah pada gilirannya, gangguan tersebut akan menghambat proses perkembangan yang optimal. Dengan demikian, penting bagi para orangtua dan guru untuk memahami permasalahan-permasalahan anak agar dapat meminimalkan kemunculan dan dampak permasalahan tersebut serta mampu memberikan upaya bantuan yang tepat. Memiliki anak merupakan anugerah terindah yang dirasakan oleh suami istri. Sudah pasti hal terbaik pulalah yang kita harapkan dari buah hati kita itu.  Tidak ada satu pun orangtua yang menginginkan anaknya menderita Autis, Gangguan Ikatan, dan Schizophrenia. Sebagian masyarakat memang masih menganggap tabu terhadap penderita tersebut. Bahkan, tidak sedikit sekolah yang menolak anak penderita tersebut berada di lingkungannya. Jumlah anak penderita penyakit tersebut di Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya. Sehingga diperlukan semacam sosialisasi edukasi deteksi dini pada orangtua, supaya bisa memperhatikan perkembangan anaknya dengan lebih baik.

B.     Tujuan Penulisan
              
               Tujuan penulisan ini adalah untuk membagi pengetahuan kepada para orangtua dan para masyarakat agar mengetahui permasalahan-permasalahan pada anak, misalnya autis, gangguan ikatan, dan schizophrenia. Dan juga agar mengetahui cara pencegahannya.

C.    Perumusan Masalah

1.      Bagaimana ciri-ciri anak yang menderita penyakit Autisme, gangguan ikatan, dan schizophrenia?
2.      Apa yang dimaksud dengan Autisme, Gangguan Ikatan, dan Schizophrenia?
3.      Bagaimana cara pencegahannya?

                       
 
BAB II
PERMASALAHAN

A.   Autisme
          Sebagai sebuah gangguan yang parah terhadap anak –anak, autisme di kenal juga dengan istilah pervasive developmental disorder muncul dalam rasio dua dari sepuluh ribu anak. Jika seorang anak menderita austime, ia hampir pasti akan menunjukan banyak sekali gejala ketimbang hanya ketidakmampuan untuk berbicara sebagai mana yang dikhawatirkan ibu Philip dan berbagai gejala tersebut  akan  muncul jauh lebih dini. Mungkin karena autisme merupakan salah satu diagnosa yang paling menakutkan bagi orang tua, tak heran jika ada banyak orang tua dan terkadang bahkan dokter anak yang cenderung menyangkal dan mengabaikan gejala –gejala awal tersebut. Tidak seperti bayi-bayi lainnya yang sejak lahir menunjukan ketertarikan sosial, tersenyum, menggenggam apa saja dengan tangan mereka, mengikuti Mama dan Papah dengan tatapan mata, menangis untuk menunjukan kesedihan atau untuk menarik perhatian, memasuki masa  kanak –kanak dengan melakukan interaksi sosial dengan anak-anak lain, anak-anak penderita autisme hampir tidak mampu melakukan hal- hal tersebut. Bayi yang autis menunjukan ketertarikan yang sangat kecil terhadap wajah manusia. Mereka hampir tidak memiliki senyum sosial sebagaimana  yang muncul di wajah bayi-bayi normal yang berusia diantara satu hingga dua bulan. Mereka seperti kurang memiliki sifat terikat yang merupakan bawaan lahir dari anak-anak normal. Dan hasilnya, sejak awal anak-anak autis terlihat memiliki ketertarikan yang sangat kecil terhadap hubungan sosial dengan anak-anak lain, suka menyendiri, tidak mampu berbagi, dan terlihat sama sekali tidak tertarik dengan siapa saja. Berhubungan dengan hal ini, mereka memiliki kemampuan komunikasi yang sangat terbatas; komunikasi verbal dan non-verbal mereka mengalami kerusakan. Kemampuan mereka untuk mengekspresikan bahasa atau menerima informasi (mengingat, memahami, dan memberi respon) terlihat  amat sangat terbatas. Kalaupun mereka berbicara, bahasa mereka tidak ditujukan sebagai sebuah cara untuk melakukan interaksi sosial; pembicaraan mereka sama sekali tidak mampu membantu perkembangan sosial mereka. Anak-anak autis cenderung akan berbicara dalam bahasa yang aneh dan sangat pribadi dengan irama dan intonasi yang sering kali di anggap ganjil oleh para pendengarnya. Mereka sering kali  tidak mampu memahami dan merespon pembicaraan orang lain.
     

  
            Tiga per empat anak –anak penderita autisme juga mengalami terbelakangan mental yang sangat parah, dengan IQ yang berkisar antara 30, 40 dan 50, dengan kemampuan pemikiran abstrak yang sangat kecil atau bakan tidak ada  sama sekali. Yang menarik, terlepas dari semua kekurangan mereka ini, beberapa anak-anak autis memiliki kebiasaan-kebiasaan luar biasa yang membedakan mereka dari anak-anak yang murni mengalami keterbelakangan mental. Di kenal dengan istilah savant, Anak-anak ini memiliki bakat dan kecerdasan luar biasa di bidang musik dan kalkulasi matematika, inggatan yang sempurna terhadap tanggal-tanggal dan jadwal-jadwal tertentu, serta berberbagai kemampuan luar biasa lainnya. Kendati demikian, kemampun-kemampuan mereka ini biasanya tidak berhubungan dengan konteks dan, sekali lagi, tidak mampu memperbaiki ketrampilan sosial mereka.
            Masalah - masalah prilaku yang dikaitkan dengan anak-anak autis mencakup variasi yang sangat luas dan kompleks. Yang paling mencolok adalah intensitas fiksasi terhadap  pikiran, obsepsi, dan aktivitas tunggal apa saja yang memikat mereka sebuah fiksasi yang meniadakan semua bentuk interaksi manusiawiah  lainnya (sebagai contoh, seorang savant yang memiliki ingatan tentang  statistik olahraga  basaball  hanya akan berbicara tentang masalah tersebut dan sepertinya tidak memikirkan apapun selain hal tersebut). Mereka bercenderung lebih terikat pada obyek-obyek mati ketimbang dengan manusia (selimut, bola, potongan kayu  dan lain sebagainya ) dan sama sekali tidak akan mentoleransi perpisahannya dengan obyek tersebut. Mereka secara umum hipersensitif terhadap stimulus inderawi suara, aroma makanan, permukaan tekstur, dan berbagai stimulus yang sejinis dan lebih menyukai hal–hal yang bisa mereka rasakan ketimbang hal-hal yang bersifat lebih abstrak dan murni visual. Mereka seringkali berayun-ayun, berjalan berjingkat dengan jari-jari kaki, menghibas–menghimbaskan tangan, cenderung untuk memutilasi dirinya sendiri, dan menunjukan gestur aneh dan unik. Mereka tidak berhubungan dengan seseorang atau obyek secara utuh, sebaliknya merekan cenderung berhubungan dengan bagian-bagian tertentu dari seseorang atau benda. Mereka cenderung kompulsif dan kaku, seringkali asyik dengan menyalahkan dan mematikan lampu,  keluar-masuk lemari, serta brbagai perilaku berulang-ulang yang bisa berlangsung terus-menerus selama beberapa jam. Mereka memiliki keinginan yang sangat kuat terhadap keberaturan dan kesamaan; anak-anak autis akan serta-merta panik ketika terjadi perubahan, sekecil apapun, terhadap jadwal makan atau jadwal tidurnya dan ketika sebuah bagian kesil dari sebuah furnitur dipindahkan. Sebagian besar anak-anak autis memiliki sikap agresif dan rentan terhadap ledakan kemarahan atau tantrum. Suasana hati mereka berayun-ayun sangat luas, dan mereka juga cenderung untuk bersikap hiperaktif.
  





            Sebagaimana dengan berbagai sindrom kejiwaan lainnya, kita belum sepenuhnya mengetahui sebab dari autisme. Akan tetapi, satu hal yang bisa kita yakini adalah, autisme tidak disebabkan oleh  sebagaimanah yang selama ini diyakini sikap orangtua yang dingin, kurang perhatian, lalai dan tanpa kasih sayang (teori”ibu lemari es” dalam autisme, yang selama ini menyatakan bahwa sebagian besar anak-anak menghindap austisme datang dari keluarga sosio-ekonomi kelas atas, dimana perang orangtua dianggap tidak memiliki ketarikan apa-apa dalam masalah penggasuhan anak-anak mereka). Anak-anak penghindap austisme bisa datang dari semua bentuk keluarga.
            Autisme sepertinya merupakan sebuah gangguan yang berhubungan dengan disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun tidak ada luka atau neurotransmitter  tertentu yang bisa dianggap sebagai penyebab kemunculan, penilitian menunjukan bahwa genetik memiliki peran yang cukup signifikasi. Terkadang ada  beberapa penyakit yang terlibat dan dikait-kaitkan dengan kemunculan autisme (semisal encephalitis, phenylketonuria, tuberous sclerosis, fragile x syndrome, proses melahirkan yang sulit, dan ibu yang mengalami rubella sesama proses mengandung). Sekitar seperempat hingga sepertiga dari anak-anak autis memiliki tingkat serotonin yang tinggi. Dari proses pemeriksaan medis, sebagian besar dari anak-anak ini memiliki apa yang disebut dengan tanda–tanda neurologis ringan, semisal masalah koordinasi otak kanan-kiri, rentang perhatian yang pendek, serta kebanjiran motorik.























YANG PERLU ANDA LAKUKAN

1.         Perawatan bagi autisme harus dilakukan sedini mungkin dan sangat mungkin akan berlangsung seumur hidup. Bahkan dalam kasus-kasus dengan kemungkinan terbaik, dimana perkembangan ketrampilan bahasa dan sosial bisa dicapai seiring pertumbuhan sang anak mencapai masa remaja dan masa dewasa, berbagai residu kesulitan sosial, edukasional serta  kesulitan yang perhubungan dengan keahlian, akan tetap ada selalu membutuhkan perhatian.
2.         Intervensi  psiko–edukasional yang baragam memberikan banyak sekali pilihan perawatan bagi anak-anak autis. Taman anak-anak khusus  terapi (yang memungkinkan anak-anak usia pra sekolah berpatisipasi dalam beragam interaksi) serta terapi-terapi edukasional, psikologikal, fisikal, dan bahasa sebaiknya dilakukan sejak dini. Beragam mediasi jiga sudah coba dipergunakan, meskipun  belum ada satupun yang secara khusus bisa menyembuhkan atau terbukti efektif. Terkadang  medikasi acntipsychotic  dalam dosis besar memang memberikan hasil yang positif. Namun hasil tersebut belum bisa berlulangsung konsisten. Salah satu hal penting yang perlu Anda diketahui adalah ada beberapa gejala autisme yang bisa ditangani dan diatasi dengan menggunakan behavioral  therapy  yang segera saat kemunculannya.
3.         Jika Anda merasa buah hati Anda menunjukkan beberapa gejala awal dari autisme, segera hubungi dokter anak keluarga Anda dan konsultasikan pula masalah yang ada dengan seorang psikolog Anak. Para ahli ini akan memistikan anak Anda menerima tes pendengaran, pemeriksaan saraf, evaluasi ketrampilan bahasa, dan tes-tes psikologis lainnya. Semua ahli yang terkait dengan masalah yang dihadapi buah hati Anda akan mengerahkan serta mengkombinasikan keahlian mereka dan, tentu saja,akan menghubungi Anda jika mereka menemukan hal-hal yang perlu Anda perhatikan.










LIHAT JUGA

·         Schizophrenia
·         Anak-anak yang Kesulitan Belajar
·         Apakah Anak Saya Perlu Menjalani Tes?
·         Gangguan Ketertarikan
·         Gangguan Obsesif-Komplusif
·         Kecemasan
·         Kemarahan
·         Gangguan Bahasa
·         Inteligensi
·         Bentuk-bentuk Terapi
·         Medikasi Psikotropika dan Anak-anak



                                                           













B.     Gangguan Ikatan
            Jennifer, yang baru berusia delapan tahun, mungkin sekedar memiliki pembawaan yang mudah bergaul akan tetapi, menurut ibunya, perilaku jennifer ini bukankan sekedar prilaku yang sekali-dua kali. Ia memiliki kebiasaan untuk selalu menggabungkan diri orang-orang lain, selalu menyita perhatian orang-orang kemana pun ia pergi, dan terkadang selalu menyela pembicaraan orang lain dalam cara yang tidak tepat. Ada kemungkinan ia menunjukan gangguan yang dikenal dengan nama disinhibited attachment disorder atau gangguan ikatan tanpa rasa segan ~salah satu dari dua bentuk gangguan ikatan (gangguan ikatan lainnya adalah inhibited attachment disorder segan atau gangguan ikatan dengan rasa segan) yang ada pada diri anak-anak.
            Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ikatan yang sehat antara seorang anak dengan orangtuanya  akan membentuk fondasi yang  kuat bagi perkembangan fisik, emosional dan psikologis seorang anak. Anak-anak dilahirkan dengan karakter bawaan lahir tertentu yang memungkinkan mereka untuk menjalin semua ikatan penting tersebut sebagai contoh, kemampuan untuk menangis (yang menjadi tanda bagi orangtua untuk memenuhi kebutuhan mereka), tersenyum, mengikuti orang tua dengan tatap mata, dan menggegam apa saja dengan tangan mereka. Ketika seorang bayi menjalin ikatan selama proses menyusui dan disaat menggendong, disalin, dimandikan, maka semakin banyak bentuk jalinan ikatan lain yang terlibat hingga sang anak mampu mengembangkan hubungan yang kuat dan stabil dengan orangtuanya. Hal ini tidak hanya membantu sang anak untuk merasa anak disayangi dan dilindungi, melainkan juga akan memampukan mereka untuk menjalin hubungan yang sehat dengan orang-orang lain yang ada di sekitarnya.
            Ada beberapa alasan mengapa sebuah ikatan yang sehat tidak terbentuk dengan baik dalam perkembangan seorang anak. Perpisahan orangtua, anak yang harus dirawat di rumahsakit, penyakit fisik atau mental yang diderita orangtua atau masalah-masalah kekerasan dalam rumah tangga, dan terkadang ketidak-sesuaian antara sifat dasar orangtua dengan anak-anak mereka, yang kesemuannya bisa pengaruh pada ikatan perasaan yang kurang memadai. Sebenarnya tidak ada sebuah ikatan orangtua-anak yang 100 persen memadai  ~tidak ada satupun dari kita yang memiliki hubungan ikatan yang sempurna dengan orangtua atau anak kita ~akan tetapi sebagian besar dari kita mampu membentuk hubungan ikatan yang memadai dan memuaskan. Kita sudah cukup mampu merasa aman dan disayangi untuk berani tampil kedunia luar dan membentuk hubungan yang sehat dengan orang-orang lain.
            Bagi sebagian anak-anak yang tidak menerima perhatian dan kasih sayang yang cukup dan memadai, maka ada kemungkinaan timbulnya gangguan ikatan, yang didefinisikan sebagai gangguan dalam kemampuan menjalin hubungan sosial yang merupakan akibat dari pengabaian terhadap kebutuhan seorang anak yang menyangkut kenyamanan, stimulasi dan kasih sayang. Terkadang kebutuhan fisik sang anak bahkan juga bisa jadi terabaikan, atau terlalu banyak perpisahaan dengan pengasuh yang membuat sang anak kesulitan untuk membentuk hubungan yang kokoh didalam atau diluar rumah.
            Disinhibited attachment disorder  (bentuk gangguan yang dialami jennifer) adalah sebuah gangguan dimana anak-anak cenderung akan membangun hubungan yang menyebar, dengan usaha untuk menjalin ikatan yang kuat dengan siapa saja yang secara kebetulan melalui kontak dengan mereka tanpa  proses pilah dan pilih. Anak yang sedemikian tidak menunjukan kemampuan memilih dalam pola hubungan sosial mereka, dan cenderung mengajak bicara siapa saja yang mereka temui dijalan, serta menjadi membuka diri terhadap terjadinya bahaya akibat dari mereka sikap yang menghubungkan diri dengan orang-orang yang berpontensi membahayakan.
            Bentuk lain dari gangguan ini ~inhibited attachment disorder~  terwujud dalam sejumlah bentuk yang berbeda-beda. Anak-anak yang mengalami gangguan ini cenderung untuk merasa bingung, mudah terkejut, penuh ketakutan, serta selalu cemas, dan masih sangat mungkin juga akan tampil extra waspada. Mereka memberi respon yang bertentangan terhadap orang-orang yang berhubungan dengan mereka dan selalu berhati-hati, seakan-akan mereka mengantisipasi datangnya sesuatu yang mengerikan. Mereka tidak mudah untuk dihibur terkadang menunjukan apa yang disebut dengan “frozen wachfullnes” atau kewaspadaan beku, dimana mereka serta-merta hanya akan melotot atau memperhatikan tatapan yang sangat aneh.
            Sebagian besar anak-anak yang menderita gangguan ikatan sudah menunjukan sebentuk hubungan yang aneh dengan orang lain sebelum mereka menginjak usia lima tahun. Mereka seringkali memiliki sikap yang luar biasa agresif, sulit mengendalikan perasaan, tak mampu mempertahankan perhatian atau mudah teralihkan, dan sulit mengatasi rasa frustasi ~sikap-sikap yang mirip dengan anak-anak pengidap  attention deficit disorder  (ADD). Mereka juga mirip dengan anak-anak yang mengidap gangguan bahasa karena kebiasaan mereka mengulang-ulang kata, dan memiliki kemampuan artikulasi yang buruk. Anak-anak ini sering dianggap secara salah sebagai anak-anak yang menderita pervasive developmental disorder  atau austisme, akan tetapi pada anak-anak autis kita tidak melihat masalah ikatan kasih sayang yang buruk ( trauma perpisahan, kekerasan fisik, penelantaran dan pengabaian, penderitaan orang tua terhadap penyakit, dan lain sebaginya) yang kita bisa lihat pada anak-anak penderita gangguan ikatan. Karena anak-anak yang mengalami gangguan ikatan ini juga cenderung memiliki IQ yang jauh dibawah normal, mereka juga sering disalah-pahami dengan anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental.
            Gangguan ini adalah sebuah wilayah umum dimana bisa menyatakan secara tegas bahwa faktor lingkungan, dan bukan faktor biologi atau genetik, merupakan sebab dari kemunculannya. Anak-anak yang menderita gangguan ikatan secara khusus dari keluarga yang memiliki pengasuhan yang buruk, perlakuan yang salah melalui kekerasan fisik atau pelecehan seksual, dan / atau penelantaran fisik dan emosional:gangguan-gangguan ini juga cenderung muncul pada anak-anak yang dibesarkan dipanti-pantiasuhan atau diasramaasrama. Berita baik gangguan ini adalah ketika sang anak dipindahkan sebuah lingkungan baru yang lebih sehat, tempat dimana terdapat stimulasi, perhatian yang penuh kasih sayang, serta berbagai faktor positif lain yang tidak ada dalam lingkungan sebelumnya, hampir bisa dipastikan bahwa mereka diberikan repon yang jauh lebih baik. Dengan kata lain, gangguan ikatan ini bisa disembuhka dengan tingkat kemungkinan yang cukup besar. Bahkan, salah satu kriteria diagnosa yang dipergunakan para ahli dalam membedakan gangguan ikatan dengan dari gangguan-gangguan lain adalah tingkat kecepatan anak-anak yang mengidapnya dalam memperbaiki kemampuan mereka dalam menjalin ikatan ketika mereka menerima perhatian yang lebih besar dan perawatan yang lebih baik dalam lingkungan lain yang lebih sehat.

YANG PERLU ANDA LAKUKAN
1.      Gangguan ikatan hampir selalu muncul dalam rumah tangga yang tidak atau hanya memiliki sedikit kasih sayang, atau perhatian, terhadap kesejahteraan seorang anak.

2.      Jika anda mendapatkan tanda-tanda gangguan ikatan, baik yang disertai rasa segan maupun yang tidak, pada anak anda, langkah penting yang harus anda lakukan adalah memperhatikan tipe pembawaan buah hati Anda untuk memastikan bahwa gangguan tesebut bukan sekedar tanda-tanda dari kepribadiannya. Ada beberapa anak yang lambat dalam membangun kehangatan dengan orang lain yang terkesan takut dan cemas ketika memasuki sebuah keadaan baru, anak-anak sedemikian sesungguhnya tidak memiliki gangguan ikatan, melainkan hanya sekedar pemalu. Sebaliknya, ada anak-anak yang memiliki pembawaan yang agresif, tegas, penuh rasa dingin tahu, sedikit overactive, dan sedikit impulsif, namun masih tetap dalam batasan-batasan yang normal.

3.      Gangguan ikatan merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis paling serius yang ada saat ini. Jika Anda merasa buah hati Anda menderita gangguan ini, Anda harus segera menghubungi para ahli. Orangtua mengapdopsi anak-anak korban kekerasan, orang-orang yang menyediakan asrama bagi anak-anak sedemikian, sepetinya harus mencari tahu tentang keberadaan gangguan ini dalam diri anak-anak tersebut. Memberikan sebuah lingkungan baru yang penuh kasih sayang tak pelak lagi akan sangat membantu bagi anak-anak malang tersebut, meskipun mereka tetap masih memerlukan bantuan para ahli untuk mehilangkan trauma-trauma masa lalu yang mereka terima di dalam lingkungan sebelumnya.

4.      Ingatlah bahwa anak-anak yang menderita gangguan ikatan ini, baik yang inhibited maupun yang disinhibited, tidak terlahir dengan genjala-genjala tersebut. Gangguan yang mereka derita jelas sekali meupakan salah satu sindrom yang berhubungan dengan perhatian, kasih sayang, dan pengasuh yang mereka terima (atau tidak mereka terima).




LIHAT JUGA

·         Inteligensi
·         Autisme
·         Anak Pemalu
·         Fobia Sosial
·         Kekerasan Fisik pada Anak-anak
·         Gangguan Bahasa
·         Gangguan Perilaku
·         Gangguan Artikulasi
·         Attention Deficit Disorder
·         Pelecehan Seksual
·         Anak yang Mengidap penyakit Fisik

















C.    Schizophrenia
            Hampir semua anak-anak akan mengalami fatansi-fantasi rumit yang seringkali  hanya memiliki sedikit hubungan dengan kenyataan. Mereka sangat mungkin akan mengalami beberapa kesulitan dalam berfikir secara rasional atau  terurut, cenderung berpindah dari satu topik secara tiba-tiba dan tanpa nalar, mempertahankan sebuah keyakinan yang sangat tidak berdasar bagi akal sehat  kita. Pada sebagian anak-anak, gagasan-gagasan seperti perilaku  ‘’gila’’ sedemikian merupakan bagian dari usaha normal mereka dalam menghadapi tahap-tahap perkembangan masa anak-anak  bahkan, hal-hal tersebut merupakan bukti sehat dari imajinasi mereka yang kreatif dan melimpah. Setelah menginjak usia tujuh dan delapan tahun, Sebagian  besar anak akan berfikir secara logis, dan meskipun mereka mungkin masih akan mempertahankan keyakinan, fantasi dan takhayul yang tidak masuk akal bagi kita, mereka secara umum sudah memiliki pegangan yang kuat terhadap kenyataan.
            Sayangnya, ada sebagian anak-anak yang tetap  dirundung oleh  ilusi yang terus –menerus  dan menderita ketidak-keseimbangan dalam proses berfikir rasional. Seperti yang dialami oleh ayah Andy, ada banyak orang tua yang melihat kenyataan ini dalam berbagai bentuk ~pola bicara yang irrasional dan tidak beraturan, interaksi social yang buruk, berbagai kesulitan di sekolah, kurangnya perhatian terhadap masalah kesehatan dan lain sebagainya. Anak-anak ini sangat mungkin akan menderita gangguan atau masalah kejiwaan yang parah, yang menunjukkan kitidak-mampuan mereka dalam menghadapi kenyataan. Salah satu bentuk gangguan tersebut adalah schizophrenia.
            Schizophrenia biasanya akan menyerang diakhir masa remaja atau di awal masa dewasa. Meskipun sebelumnya gangguan ini jarang terlihat pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun, dan hampir tidak terlihat pada anak-anak usia pra-remaja, akan tetapi belakangan ini ada jumlah laporan tentang yang terus meningkat tentang anak-anak yang sepertinya terjangkiti gangguan ini. Sama seperti schizophrenia yang melanda orang-orang dewasa, anak-anak yang menderita gangguan ini juga akan mengalami halusinansi visual dan auditorial, meskipun anak-anak cenderung lebih sering melihat hal-hal yang aneh ketimbang mendengar suara-suara asing.
            Anak-anak yang menderita gangguan schizophrenia seringkali memegang kenyakinan irrasional tentang orang tua mereka, cenderung mengaku melihat monster dan hantu, dan berbagai pemandangan aneh lainnya, serta terkadang mendengar suara-suara yang memaksa mereka untuk menyakiti diri mereka sendiri atau melakukan perilaku-perilaku “nakal”  yang bisa mendatangkan hukuman. Anak-anak tersebut bisa jadi akan menjadi paranoid dengan mengatakan bahwa udara dan makanan mereka beracun, atau beranggapan bahwa orang lain atau makhluk lain sedang menyaksikan dan berkonspirasi melawan mereka. Khayalan mereka ini seringkali akan meningkatkan kecemasan, agitasi, kepanikan dan terkadang kekerasan dan bahkan percobaan bunuh diri. Mereka akan terlihat sangat kacau ~akibat dari gangguan pola pikir yang bertautan dengan halusinasi menakutkan~ dan sulit sekali bagi kita untuk mengikuti logika dan pembicaraannya.
            Perasaan dan perilaku mereka sepertinya berjalan berseberangan: mereka bisa jadi akan tertawa pada saat-saat yang tidak tepat, atau menunjukkan reaksi emosional yang terlihat sulit dimengerti atau tak beralasan. Ada banyak anak-anak penderita schizophrenia yang melakukan gerakan-gerakan aneh, disertai dengan tingkah laku yang ganjil, ekspresi wajah yang mengerikan, dan gesture-gestur yang membuat penampilan mereka semakin sulit dimengerti. Juga ada kemungkinan mereka menunjukkan emosi yang datar; mereka seperti tidak menikmati apapun yang ada disekitarnya, hanya sedikit bicara, memandang ke depan dengan tatapan mata yang kosong, dan menghindari semua bentuk kontak dengan orang lain, hingga pada titik penarikan diri dari semua hal yang bersifat social.
            Kita belum sepenuhnya mengetahui sebab munculnya schizophrenia, meskipun ada beberapa bentuk pengaruh biologis dan genetic yang bisa dianggap sebagai penyebab. Beberapa penelitian yang dilakukan terhadap otak para penderita schizophrenia ~terutama aliran darah ke wilayah cortex~ baru-baru ini menunjukkan beberapa informasi tentang kemungkinan kelainan struktur otak, semisal pembesaran kamar-kamar otak (brain ventricles). Berbagai penelitian lain juga menunjukkan kelainan-kelainan lain dalam neurotransmitter dari para pengidap gangguan schizophrenia ini. Hingga belakangan ini, sebagaian besar riset tentang schizophrenia telah difokuskan pada psikodinamika komunikasi yang terjadi dalam keluarga pengidapnya: inkonsistensi, komunikasi “ganda” (pesan-pesan yang saling bertentangan), dan berbagai fenomena penyebab kecemasan lainnya yang bisa jadi menyebabkan munculnya gangguan tersebut. Berbagai factor lingkungan juga sudah dipelajari, termasuk status sosio-ekonomi, masalah perceraian dan pengasuhan yang dilakukan oleh orangtua tunggal.
            Satu hal yang bisa kita yakini menyangkut schizophrenia adalah fakta bahwa gangguan ini berhubungan dengan berbagai kesulitan dalam masa-masa perkembangan seorang anak dan seringkali berhubungan dengan berbagai masalah serta gangguan dalam kemampuan belajar, kemampuan memperhatikan, ketrampilan berbicara, dan perilaku. Bahkan, gangguan ini seringkali terlihat mirip dengan gangguan-gangguan lain, dan bantuan para ahli sangat diperlukan untuk membedakan gangguan ini dari sindrom-sindrom lain yang memiliki beberapa tanda  dan gejala yang serupa dengannya, semisal keterbelakangan mental, depresi, mania, dan berbagai gangguan lain seprti, ADD, gangguan bahasa, gangguan bicara, autism, dan terkadang gangguan obsesif-komplusif. (Sebaiknya bab-bab yang membahas masing-masing masalah tersebut juga dipelajari).






YANG PERLU ANDA LAKUKAN

1.      Bantuan para ahli adalah hal yang mutlak diperlukan dalam menghadapi gangguan ini. Selama beberapa tahun belakangan telah banyak langkah-langkah intervensi yang terbukti membantu, termasuk perawatan dengan medikasi psikotropika, pendidikan khusus, terapi keluarga (yang berfokus pada upaya memahami sifat dasar dari gangguan tersebut dan membantu orangtua dalam menghadapi kecemasan mereka sendiri menyangkut gangguan tersebut) serta psikoterapi individu dan behavioural therapy bagi sang anak.
2.      Persiapkan diri Anda menghadapi fakta bahwa anak-anak penderita schizophrenia sangat mungkin akan membutuhkan sebuah pendekatan yang beraneka segi, baik di rumah maupun saat menjalani psikoterapi, dan Anda juga harus siap untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai bentuk perawatan yang akan dijalani sang anak.

LIHAT JUGA

·         Gangguan Belajar
·         Gangguan Perilaku
·         Gangguian Bahasa
·         Bentuk-bentuk Terapi
·         Medikasi Psikotropika dan Anak-anak
·         Gangguan
·         Obsesif-Kompulsif
·         Autisme
·         Attention Deficit Disorder








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
         Pada dasarnya anak-anak yang menderita penyakit Autis, Gangguan Ikatan, dan Schizophrenia memiliki cirri yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pada anak yang menderita penyakit Autis sejak awal terlihat memiliki ketertarikan yang sangat kecil terhadap hubungan sosial dengan anak-anak lain, suka menyendiri, tidak mampu berbagi, dan terlihat sama sekali tidak tertarik dengan siapa saja. Pada anak yang menderita penyakit Gangguan Ikatan memiliki sikap yang luar biasa agresif, sulit mengendalikan perasaan, tak mampu mempertahankan perhatian atau mudah teralihkan, dan sulit mengatasi rasa frustasi. Dan anak yang menderita penyakit Schizophrenia melakukan gerakan-gerakan aneh, disertai dengan tingkah laku yang ganjil, ekspresi wajah yang mengerikan, dan gesture-gestur yang membuat penampilan mereka semakin sulit dimengerti. Maka dari itu mulai dari sekarang kita seharusnya sudah mempelajari apa yang menjadi cirri anak yang menderita penyakit tersebut.

B.     Saran
         Setiap permasalahan tentu memiliki solusi. Demikian pula permasalahan yang dihadapi anak, merupakan suatu cara bagi orangtua dan guru untuk belajar memberikan solusi yang baik bagi proses tumbuh kembang anak-anak mereka. Semoga makalah ini bermanfaat untuk semua orang.












DAFTAR PUSTAKA

Henry a.paul, M.D. 2008. Konseling dan Psikoterapi Anak. Sleman Yogyakarta: idea publishing.