BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap anak yang lahir ke dunia, sangat rentan
dengan berbagai masalah. Masalah yang dihadapi anak, terutama anak usia dini,
biasanya berkaitan dengan gangguan pada proses perkembangannya. Bila gangguan
tersebut tidak segera di atasi maka akan berlanjut pada fase perkembangan
berikutnya yaitu fase perkembangan anak sekolah pada gilirannya, gangguan
tersebut akan menghambat proses perkembangan yang optimal. Dengan demikian,
penting bagi para orangtua dan guru untuk memahami permasalahan-permasalahan
anak agar dapat meminimalkan kemunculan dan dampak permasalahan tersebut serta
mampu memberikan upaya bantuan yang tepat. Memiliki anak merupakan anugerah
terindah yang dirasakan oleh suami istri. Sudah pasti hal terbaik pulalah yang
kita harapkan dari buah hati kita itu.
Tidak ada satu pun orangtua yang menginginkan anaknya menderita Autis,
Gangguan Ikatan, dan Schizophrenia. Sebagian masyarakat memang masih menganggap
tabu terhadap penderita tersebut. Bahkan, tidak sedikit sekolah yang menolak
anak penderita tersebut berada di lingkungannya. Jumlah anak penderita penyakit
tersebut di Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya. Sehingga diperlukan
semacam sosialisasi edukasi deteksi dini pada orangtua, supaya bisa
memperhatikan perkembangan anaknya dengan lebih baik.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan ini adalah untuk membagi pengetahuan kepada para orangtua dan para masyarakat
agar mengetahui permasalahan-permasalahan pada anak, misalnya autis, gangguan
ikatan, dan schizophrenia. Dan juga agar mengetahui cara pencegahannya.
C. Perumusan Masalah
1.
Bagaimana ciri-ciri anak yang menderita
penyakit Autisme, gangguan ikatan, dan schizophrenia?
2.
Apa yang dimaksud dengan Autisme, Gangguan
Ikatan, dan Schizophrenia?
3.
Bagaimana cara pencegahannya?
BAB II
PERMASALAHAN
A. Autisme
Sebagai sebuah gangguan
yang parah terhadap anak –anak, autisme di kenal juga dengan istilah pervasive developmental disorder muncul
dalam rasio dua dari sepuluh ribu anak. Jika seorang anak menderita austime, ia
hampir pasti akan menunjukan banyak sekali gejala ketimbang hanya ketidakmampuan
untuk berbicara sebagai mana yang dikhawatirkan ibu Philip dan berbagai gejala
tersebut akan muncul jauh lebih dini. Mungkin karena
autisme merupakan salah satu diagnosa yang paling menakutkan bagi orang tua,
tak heran jika ada banyak orang tua dan terkadang bahkan dokter anak yang
cenderung menyangkal dan mengabaikan gejala –gejala awal tersebut. Tidak
seperti bayi-bayi lainnya yang sejak lahir menunjukan ketertarikan sosial,
tersenyum, menggenggam apa saja dengan tangan mereka, mengikuti Mama dan Papah
dengan tatapan mata, menangis untuk menunjukan kesedihan atau untuk menarik
perhatian, memasuki masa kanak –kanak
dengan melakukan interaksi sosial dengan anak-anak lain, anak-anak penderita
autisme hampir tidak mampu melakukan hal- hal tersebut. Bayi yang autis
menunjukan ketertarikan yang sangat kecil terhadap wajah manusia. Mereka hampir
tidak memiliki senyum sosial sebagaimana
yang muncul di wajah bayi-bayi normal yang berusia diantara satu hingga
dua bulan. Mereka seperti kurang memiliki sifat terikat yang merupakan bawaan
lahir dari anak-anak normal. Dan hasilnya, sejak awal anak-anak autis terlihat
memiliki ketertarikan yang sangat kecil terhadap hubungan sosial dengan
anak-anak lain, suka menyendiri, tidak mampu berbagi, dan terlihat sama sekali
tidak tertarik dengan siapa saja. Berhubungan dengan hal ini, mereka memiliki
kemampuan komunikasi yang sangat terbatas; komunikasi verbal dan non-verbal
mereka mengalami kerusakan. Kemampuan mereka untuk mengekspresikan bahasa atau
menerima informasi (mengingat, memahami, dan memberi respon) terlihat amat sangat terbatas. Kalaupun mereka
berbicara, bahasa mereka tidak ditujukan sebagai sebuah cara untuk melakukan
interaksi sosial; pembicaraan mereka sama sekali tidak mampu membantu
perkembangan sosial mereka. Anak-anak autis cenderung akan berbicara dalam
bahasa yang aneh dan sangat pribadi dengan irama dan intonasi yang sering kali
di anggap ganjil oleh para pendengarnya. Mereka sering kali tidak mampu memahami dan merespon pembicaraan
orang lain.
Tiga per empat anak –anak penderita autisme
juga mengalami terbelakangan mental yang sangat parah, dengan IQ yang berkisar
antara 30, 40 dan 50, dengan kemampuan pemikiran abstrak yang sangat kecil atau
bakan tidak ada sama sekali. Yang menarik,
terlepas dari semua kekurangan mereka ini, beberapa anak-anak autis memiliki
kebiasaan-kebiasaan luar biasa yang membedakan mereka dari anak-anak yang murni
mengalami keterbelakangan mental. Di kenal dengan istilah savant, Anak-anak ini
memiliki bakat dan kecerdasan luar biasa di bidang musik dan kalkulasi
matematika, inggatan yang sempurna terhadap tanggal-tanggal dan jadwal-jadwal
tertentu, serta berberbagai kemampuan luar biasa lainnya. Kendati demikian, kemampun-kemampuan mereka
ini biasanya tidak berhubungan dengan konteks dan, sekali lagi, tidak mampu
memperbaiki ketrampilan sosial mereka.
Masalah - masalah prilaku yang dikaitkan
dengan anak-anak autis mencakup variasi yang sangat luas dan kompleks. Yang paling mencolok
adalah intensitas fiksasi terhadap
pikiran, obsepsi, dan aktivitas tunggal apa saja yang memikat
mereka sebuah fiksasi yang meniadakan semua bentuk interaksi manusiawiah lainnya (sebagai contoh, seorang savant yang memiliki ingatan tentang statistik olahraga basaball hanya akan berbicara tentang masalah
tersebut dan sepertinya tidak memikirkan apapun selain hal tersebut). Mereka
bercenderung lebih terikat pada obyek-obyek mati ketimbang dengan manusia (selimut, bola, potongan kayu dan lain sebagainya ) dan sama sekali tidak
akan mentoleransi perpisahannya dengan obyek tersebut. Mereka secara umum
hipersensitif terhadap stimulus inderawi suara, aroma makanan, permukaan tekstur,
dan berbagai stimulus yang sejinis dan lebih menyukai hal–hal yang bisa mereka
rasakan ketimbang hal-hal yang bersifat lebih abstrak dan murni visual. Mereka
seringkali berayun-ayun, berjalan berjingkat dengan jari-jari kaki, menghibas–menghimbaskan
tangan, cenderung untuk memutilasi dirinya sendiri, dan menunjukan gestur aneh
dan unik. Mereka tidak berhubungan dengan seseorang atau obyek secara utuh,
sebaliknya merekan cenderung berhubungan dengan bagian-bagian tertentu dari
seseorang atau benda. Mereka cenderung kompulsif dan kaku, seringkali asyik
dengan menyalahkan dan mematikan lampu, keluar-masuk
lemari, serta brbagai perilaku berulang-ulang yang bisa berlangsung
terus-menerus selama beberapa jam. Mereka memiliki keinginan yang sangat kuat
terhadap keberaturan dan kesamaan; anak-anak autis akan serta-merta panik
ketika terjadi perubahan, sekecil apapun, terhadap jadwal makan atau jadwal
tidurnya dan ketika sebuah bagian kesil dari sebuah furnitur dipindahkan.
Sebagian besar anak-anak autis memiliki sikap agresif dan rentan terhadap
ledakan kemarahan atau tantrum. Suasana hati mereka berayun-ayun sangat luas, dan mereka juga cenderung
untuk bersikap hiperaktif.
Sebagaimana dengan berbagai sindrom kejiwaan
lainnya, kita belum sepenuhnya mengetahui sebab dari autisme. Akan tetapi, satu
hal yang bisa kita yakini adalah, autisme tidak disebabkan oleh sebagaimanah yang selama ini diyakini sikap
orangtua yang dingin, kurang perhatian, lalai dan tanpa kasih sayang (teori”ibu
lemari es” dalam autisme, yang selama ini menyatakan bahwa sebagian besar
anak-anak menghindap austisme datang dari keluarga sosio-ekonomi kelas atas, dimana
perang orangtua dianggap tidak memiliki ketarikan apa-apa dalam masalah penggasuhan
anak-anak mereka). Anak-anak penghindap austisme bisa datang dari semua bentuk
keluarga.
Autisme sepertinya merupakan sebuah gangguan
yang berhubungan dengan disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun tidak ada luka atau neurotransmitter tertentu yang bisa dianggap sebagai penyebab
kemunculan, penilitian menunjukan bahwa genetik memiliki peran yang cukup signifikasi.
Terkadang ada beberapa penyakit
yang terlibat dan dikait-kaitkan dengan kemunculan autisme (semisal encephalitis, phenylketonuria, tuberous sclerosis, fragile
x syndrome, proses melahirkan yang sulit, dan ibu yang mengalami rubella sesama proses mengandung). Sekitar seperempat hingga
sepertiga dari anak-anak autis memiliki tingkat serotonin
yang tinggi. Dari proses pemeriksaan medis, sebagian besar dari anak-anak ini memiliki
apa yang disebut dengan tanda–tanda neurologis ringan, semisal masalah koordinasi
otak kanan-kiri, rentang perhatian yang pendek, serta kebanjiran motorik.
YANG
PERLU ANDA LAKUKAN
1. Perawatan bagi autisme
harus dilakukan sedini mungkin dan sangat mungkin akan
berlangsung seumur hidup. Bahkan dalam kasus-kasus dengan kemungkinan terbaik, dimana
perkembangan ketrampilan bahasa dan sosial bisa dicapai seiring pertumbuhan
sang anak mencapai masa remaja dan masa dewasa, berbagai residu kesulitan
sosial, edukasional serta kesulitan yang
perhubungan dengan keahlian, akan tetap ada selalu membutuhkan perhatian.
2. Intervensi
psiko–edukasional yang baragam memberikan banyak sekali pilihan perawatan bagi
anak-anak autis. Taman anak-anak khusus terapi (yang memungkinkan anak-anak usia pra
sekolah berpatisipasi dalam beragam interaksi) serta terapi-terapi
edukasional, psikologikal, fisikal, dan bahasa sebaiknya dilakukan sejak
dini. Beragam mediasi jiga sudah coba dipergunakan,
meskipun belum ada satupun yang secara
khusus bisa menyembuhkan atau terbukti efektif. Terkadang medikasi acntipsychotic dalam dosis besar memang memberikan hasil
yang positif. Namun hasil tersebut belum bisa berlulangsung konsisten. Salah satu hal penting yang perlu Anda
diketahui adalah ada beberapa gejala autisme yang bisa ditangani dan diatasi
dengan menggunakan behavioral therapy yang segera saat kemunculannya.
3. Jika Anda merasa buah hati Anda
menunjukkan beberapa gejala awal dari autisme, segera hubungi dokter anak
keluarga Anda dan konsultasikan pula masalah yang ada dengan seorang psikolog
Anak. Para ahli ini akan memistikan anak
Anda menerima tes pendengaran, pemeriksaan saraf, evaluasi ketrampilan bahasa, dan
tes-tes psikologis lainnya. Semua ahli yang terkait dengan masalah yang
dihadapi buah hati Anda akan mengerahkan serta mengkombinasikan keahlian mereka
dan, tentu saja,akan menghubungi Anda jika mereka menemukan hal-hal yang perlu
Anda perhatikan.
LIHAT JUGA
·
Schizophrenia
·
Anak-anak yang Kesulitan Belajar
·
Apakah Anak Saya Perlu Menjalani Tes?
·
Gangguan Ketertarikan
·
Gangguan Obsesif-Komplusif
·
Kecemasan
·
Kemarahan
·
Gangguan Bahasa
·
Inteligensi
·
Bentuk-bentuk Terapi
·
Medikasi Psikotropika dan Anak-anak
B.
Gangguan
Ikatan
Jennifer, yang baru
berusia delapan tahun, mungkin sekedar memiliki pembawaan yang mudah bergaul
akan tetapi, menurut ibunya, perilaku jennifer ini bukankan sekedar prilaku
yang sekali-dua kali. Ia memiliki kebiasaan untuk selalu menggabungkan diri
orang-orang lain, selalu menyita perhatian orang-orang kemana pun ia pergi, dan
terkadang selalu menyela pembicaraan orang lain dalam cara yang tidak tepat.
Ada kemungkinan ia menunjukan gangguan yang dikenal dengan nama disinhibited attachment disorder atau gangguan ikatan tanpa rasa
segan ~salah satu dari dua bentuk gangguan ikatan (gangguan ikatan lainnya
adalah inhibited attachment disorder
segan atau gangguan ikatan dengan rasa segan) yang ada pada diri anak-anak.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa
ikatan yang sehat antara seorang anak dengan orangtuanya akan membentuk fondasi yang kuat bagi perkembangan fisik, emosional dan
psikologis seorang anak. Anak-anak dilahirkan dengan karakter bawaan lahir
tertentu yang memungkinkan mereka untuk menjalin semua ikatan penting tersebut
sebagai contoh, kemampuan untuk menangis (yang menjadi tanda bagi orangtua
untuk memenuhi kebutuhan mereka), tersenyum, mengikuti orang tua dengan tatap
mata, dan menggegam apa saja dengan tangan mereka. Ketika seorang bayi menjalin
ikatan selama proses menyusui dan disaat menggendong, disalin, dimandikan, maka
semakin banyak bentuk jalinan ikatan lain yang terlibat hingga sang anak mampu
mengembangkan hubungan yang kuat dan stabil dengan orangtuanya. Hal ini tidak
hanya membantu sang anak untuk merasa anak disayangi dan dilindungi, melainkan
juga akan memampukan mereka untuk menjalin hubungan yang sehat dengan
orang-orang lain yang ada di sekitarnya.
Ada beberapa alasan
mengapa sebuah ikatan yang sehat tidak terbentuk dengan baik dalam perkembangan
seorang anak. Perpisahan orangtua, anak yang harus dirawat di rumahsakit,
penyakit fisik atau mental yang diderita orangtua atau masalah-masalah
kekerasan dalam rumah tangga, dan terkadang ketidak-sesuaian antara sifat dasar
orangtua dengan anak-anak mereka, yang kesemuannya bisa pengaruh pada ikatan
perasaan yang kurang memadai. Sebenarnya tidak ada sebuah ikatan orangtua-anak
yang 100 persen memadai ~tidak ada
satupun dari kita yang memiliki hubungan ikatan yang sempurna dengan orangtua
atau anak kita ~akan tetapi sebagian besar dari kita mampu membentuk hubungan
ikatan yang memadai dan memuaskan. Kita sudah cukup mampu merasa aman dan
disayangi untuk berani tampil kedunia luar dan membentuk hubungan yang sehat
dengan orang-orang lain.
Bagi sebagian
anak-anak yang tidak menerima perhatian dan kasih sayang yang cukup dan
memadai, maka ada kemungkinaan timbulnya gangguan ikatan, yang didefinisikan
sebagai gangguan dalam kemampuan menjalin hubungan sosial yang merupakan akibat dari pengabaian terhadap kebutuhan seorang
anak yang menyangkut kenyamanan, stimulasi dan kasih sayang. Terkadang
kebutuhan fisik sang anak bahkan juga bisa jadi terabaikan, atau terlalu banyak
perpisahaan dengan pengasuh yang membuat sang anak kesulitan untuk membentuk
hubungan yang kokoh didalam atau diluar rumah.
Disinhibited
attachment disorder (bentuk gangguan yang dialami jennifer) adalah
sebuah gangguan dimana anak-anak cenderung akan
membangun hubungan yang menyebar, dengan usaha untuk menjalin ikatan yang kuat
dengan siapa saja yang secara kebetulan melalui kontak dengan mereka tanpa proses pilah dan pilih. Anak yang sedemikian
tidak menunjukan kemampuan memilih dalam pola hubungan sosial mereka, dan
cenderung mengajak bicara siapa saja yang mereka temui dijalan, serta menjadi
membuka diri terhadap terjadinya bahaya akibat dari mereka sikap yang
menghubungkan diri dengan orang-orang yang berpontensi membahayakan.
Bentuk lain dari gangguan ini ~inhibited attachment disorder~ terwujud dalam sejumlah bentuk yang
berbeda-beda. Anak-anak yang mengalami gangguan ini cenderung untuk merasa
bingung, mudah terkejut, penuh ketakutan, serta selalu cemas, dan masih sangat
mungkin juga akan tampil extra waspada. Mereka memberi respon yang bertentangan
terhadap orang-orang yang berhubungan dengan mereka dan selalu berhati-hati,
seakan-akan mereka mengantisipasi datangnya sesuatu yang mengerikan. Mereka
tidak mudah untuk dihibur terkadang menunjukan apa yang disebut dengan “frozen wachfullnes” atau kewaspadaan
beku, dimana mereka serta-merta hanya akan melotot atau memperhatikan tatapan
yang sangat aneh.
Sebagian besar anak-anak yang
menderita gangguan ikatan sudah menunjukan sebentuk hubungan yang aneh dengan
orang lain sebelum mereka menginjak usia lima tahun. Mereka seringkali memiliki
sikap yang luar biasa agresif, sulit mengendalikan perasaan, tak mampu
mempertahankan perhatian atau mudah teralihkan, dan sulit mengatasi rasa
frustasi ~sikap-sikap yang mirip dengan anak-anak
pengidap attention deficit disorder (ADD). Mereka juga mirip dengan anak-anak yang
mengidap gangguan bahasa karena kebiasaan mereka mengulang-ulang kata, dan
memiliki kemampuan artikulasi yang buruk. Anak-anak ini sering dianggap secara
salah sebagai anak-anak yang menderita pervasive
developmental disorder atau
austisme, akan tetapi pada anak-anak autis kita tidak melihat masalah ikatan
kasih sayang yang buruk ( trauma perpisahan, kekerasan fisik, penelantaran dan
pengabaian, penderitaan orang tua terhadap penyakit, dan lain sebaginya) yang kita bisa lihat pada anak-anak penderita
gangguan ikatan. Karena anak-anak yang mengalami gangguan ikatan ini juga
cenderung memiliki IQ yang jauh dibawah normal, mereka juga sering disalah-pahami
dengan anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental.
Gangguan ini adalah
sebuah wilayah umum dimana bisa menyatakan secara tegas bahwa faktor
lingkungan, dan bukan faktor biologi atau genetik, merupakan sebab dari
kemunculannya. Anak-anak yang menderita gangguan ikatan secara khusus dari
keluarga yang memiliki pengasuhan yang buruk, perlakuan yang salah melalui
kekerasan fisik atau pelecehan seksual, dan / atau penelantaran fisik dan
emosional:gangguan-gangguan ini juga cenderung muncul pada anak-anak yang
dibesarkan dipanti-pantiasuhan atau diasramaasrama. Berita baik gangguan ini
adalah ketika sang anak dipindahkan sebuah lingkungan baru yang lebih sehat,
tempat dimana terdapat stimulasi, perhatian yang penuh kasih sayang, serta
berbagai faktor positif lain yang tidak ada dalam lingkungan sebelumnya, hampir
bisa dipastikan bahwa mereka diberikan repon yang jauh lebih baik. Dengan kata
lain, gangguan ikatan ini bisa disembuhka dengan tingkat kemungkinan yang cukup
besar. Bahkan, salah satu kriteria diagnosa yang dipergunakan para ahli dalam
membedakan gangguan ikatan dengan dari gangguan-gangguan lain adalah tingkat
kecepatan anak-anak yang mengidapnya dalam memperbaiki kemampuan mereka dalam
menjalin ikatan ketika mereka menerima perhatian yang lebih besar dan perawatan
yang lebih baik dalam lingkungan lain yang lebih sehat.
YANG PERLU ANDA
LAKUKAN
1. Gangguan ikatan hampir
selalu muncul dalam rumah tangga yang tidak atau hanya memiliki sedikit kasih
sayang, atau perhatian, terhadap kesejahteraan seorang anak.
2. Jika anda mendapatkan
tanda-tanda gangguan ikatan, baik yang disertai rasa segan maupun yang tidak,
pada anak anda, langkah penting yang harus anda lakukan adalah memperhatikan
tipe pembawaan buah hati Anda untuk memastikan bahwa gangguan tesebut bukan
sekedar tanda-tanda dari kepribadiannya. Ada beberapa anak yang lambat dalam
membangun kehangatan dengan orang lain yang terkesan takut dan cemas ketika
memasuki sebuah keadaan baru, anak-anak sedemikian sesungguhnya tidak memiliki
gangguan ikatan, melainkan hanya sekedar pemalu. Sebaliknya, ada anak-anak yang
memiliki pembawaan yang agresif, tegas, penuh rasa dingin tahu, sedikit overactive, dan sedikit impulsif, namun
masih tetap dalam batasan-batasan yang normal.
3.
Gangguan ikatan merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis paling
serius yang ada saat ini. Jika Anda merasa buah hati Anda menderita gangguan
ini, Anda harus segera menghubungi para ahli. Orangtua mengapdopsi anak-anak
korban kekerasan, orang-orang yang menyediakan asrama bagi anak-anak
sedemikian, sepetinya harus mencari tahu tentang keberadaan gangguan ini dalam
diri anak-anak tersebut. Memberikan sebuah lingkungan baru yang penuh kasih
sayang tak pelak lagi akan sangat membantu bagi anak-anak malang tersebut, meskipun
mereka tetap masih memerlukan bantuan para ahli untuk mehilangkan trauma-trauma
masa lalu yang mereka terima di dalam lingkungan sebelumnya.
4.
Ingatlah bahwa anak-anak yang menderita gangguan ikatan ini, baik yang inhibited maupun yang disinhibited, tidak terlahir dengan
genjala-genjala tersebut. Gangguan yang mereka derita jelas sekali meupakan
salah satu sindrom yang berhubungan dengan perhatian, kasih sayang, dan
pengasuh yang mereka terima (atau tidak mereka terima).
LIHAT JUGA
·
Inteligensi
·
Autisme
·
Anak Pemalu
·
Fobia Sosial
·
Kekerasan Fisik pada Anak-anak
·
Gangguan Bahasa
·
Gangguan Perilaku
·
Gangguan Artikulasi
·
Attention Deficit Disorder
·
Pelecehan Seksual
·
Anak yang Mengidap penyakit Fisik
C. Schizophrenia
Hampir semua anak-anak akan mengalami
fatansi-fantasi rumit yang seringkali
hanya memiliki sedikit hubungan dengan kenyataan. Mereka sangat mungkin akan
mengalami beberapa kesulitan dalam berfikir secara rasional atau terurut, cenderung berpindah dari satu topik
secara tiba-tiba dan tanpa nalar, mempertahankan sebuah keyakinan yang sangat
tidak berdasar bagi akal sehat kita. Pada sebagian anak-anak, gagasan-gagasan
seperti perilaku ‘’gila’’ sedemikian
merupakan bagian dari usaha normal mereka dalam menghadapi tahap-tahap
perkembangan masa anak-anak bahkan,
hal-hal tersebut merupakan bukti sehat dari imajinasi mereka yang kreatif dan
melimpah. Setelah menginjak usia tujuh dan delapan tahun, Sebagian besar anak akan berfikir secara logis, dan meskipun
mereka mungkin masih akan mempertahankan keyakinan, fantasi dan takhayul yang
tidak masuk akal bagi kita, mereka secara umum sudah memiliki pegangan yang kuat
terhadap kenyataan.
Sayangnya, ada sebagian anak-anak yang tetap dirundung oleh ilusi yang terus –menerus dan menderita ketidak-keseimbangan dalam proses berfikir rasional.
Seperti yang dialami oleh ayah Andy, ada banyak orang tua yang melihat
kenyataan ini dalam berbagai bentuk ~pola bicara yang irrasional dan tidak beraturan, interaksi social yang
buruk, berbagai kesulitan di sekolah, kurangnya perhatian terhadap masalah
kesehatan dan lain sebagainya. Anak-anak ini sangat mungkin akan menderita
gangguan atau masalah kejiwaan yang parah, yang menunjukkan kitidak-mampuan
mereka dalam menghadapi kenyataan. Salah satu bentuk gangguan tersebut adalah schizophrenia.
Schizophrenia biasanya akan menyerang
diakhir masa remaja atau di awal masa dewasa. Meskipun sebelumnya gangguan ini
jarang terlihat pada anak-anak yang berusia di bawah lima tahun, dan hampir
tidak terlihat pada anak-anak usia pra-remaja, akan tetapi belakangan ini ada
jumlah laporan tentang yang terus meningkat tentang anak-anak yang sepertinya
terjangkiti gangguan ini. Sama seperti schizophrenia yang melanda
orang-orang dewasa, anak-anak yang menderita gangguan ini juga akan mengalami
halusinansi visual dan auditorial, meskipun anak-anak cenderung lebih sering
melihat hal-hal yang aneh ketimbang mendengar suara-suara asing.
Anak-anak yang menderita gangguan schizophrenia seringkali
memegang kenyakinan irrasional tentang orang tua mereka, cenderung mengaku
melihat monster dan hantu, dan berbagai pemandangan aneh lainnya, serta
terkadang mendengar suara-suara yang memaksa mereka untuk menyakiti diri mereka
sendiri atau melakukan perilaku-perilaku “nakal” yang bisa mendatangkan hukuman. Anak-anak
tersebut bisa jadi akan menjadi paranoid dengan mengatakan bahwa udara dan
makanan mereka beracun, atau beranggapan bahwa orang lain atau makhluk lain
sedang menyaksikan dan berkonspirasi melawan mereka. Khayalan mereka ini
seringkali akan meningkatkan kecemasan, agitasi, kepanikan dan terkadang
kekerasan dan bahkan percobaan bunuh diri. Mereka akan terlihat sangat kacau ~akibat dari gangguan pola
pikir yang bertautan dengan halusinasi menakutkan~ dan sulit sekali bagi kita untuk mengikuti logika dan pembicaraannya.
Perasaan dan perilaku mereka sepertinya berjalan
berseberangan: mereka bisa jadi akan tertawa pada saat-saat yang tidak tepat,
atau menunjukkan reaksi emosional yang terlihat sulit dimengerti atau tak
beralasan. Ada banyak anak-anak penderita schizophrenia yang melakukan
gerakan-gerakan aneh, disertai dengan tingkah laku yang ganjil, ekspresi wajah
yang mengerikan, dan gesture-gestur yang membuat penampilan mereka semakin
sulit dimengerti. Juga ada kemungkinan mereka menunjukkan emosi yang datar;
mereka seperti tidak menikmati apapun yang ada disekitarnya, hanya sedikit
bicara, memandang ke depan dengan tatapan mata yang kosong, dan menghindari
semua bentuk kontak dengan orang lain, hingga pada titik penarikan diri dari
semua hal yang bersifat social.
Kita belum sepenuhnya mengetahui sebab munculnya schizophrenia,
meskipun ada beberapa bentuk pengaruh biologis dan genetic yang bisa
dianggap sebagai penyebab. Beberapa penelitian yang dilakukan terhadap otak
para penderita schizophrenia ~terutama aliran darah ke wilayah cortex~ baru-baru ini menunjukkan
beberapa informasi tentang kemungkinan kelainan struktur otak, semisal
pembesaran kamar-kamar otak (brain ventricles). Berbagai penelitian lain
juga menunjukkan kelainan-kelainan lain dalam neurotransmitter dari para
pengidap gangguan schizophrenia ini. Hingga belakangan ini, sebagaian
besar riset tentang schizophrenia telah difokuskan pada psikodinamika
komunikasi yang terjadi dalam keluarga pengidapnya: inkonsistensi, komunikasi
“ganda” (pesan-pesan yang saling bertentangan), dan berbagai fenomena penyebab
kecemasan lainnya yang bisa jadi menyebabkan munculnya gangguan tersebut. Berbagai
factor lingkungan juga sudah dipelajari, termasuk status sosio-ekonomi, masalah
perceraian dan pengasuhan yang dilakukan oleh orangtua tunggal.
Satu hal yang bisa kita yakini menyangkut schizophrenia
adalah fakta bahwa gangguan ini berhubungan dengan berbagai kesulitan dalam
masa-masa perkembangan seorang anak dan seringkali berhubungan dengan berbagai
masalah serta gangguan dalam kemampuan belajar, kemampuan memperhatikan,
ketrampilan berbicara, dan perilaku. Bahkan, gangguan ini seringkali terlihat mirip
dengan gangguan-gangguan lain, dan bantuan para ahli sangat diperlukan untuk
membedakan gangguan ini dari sindrom-sindrom lain yang memiliki beberapa
tanda dan gejala yang serupa dengannya,
semisal keterbelakangan mental, depresi, mania, dan berbagai gangguan lain
seprti, ADD, gangguan bahasa, gangguan bicara, autism, dan terkadang gangguan
obsesif-komplusif. (Sebaiknya bab-bab yang membahas masing-masing masalah
tersebut juga dipelajari).
YANG PERLU ANDA
LAKUKAN
1.
Bantuan para ahli adalah hal yang mutlak diperlukan
dalam menghadapi gangguan ini. Selama beberapa tahun belakangan telah banyak
langkah-langkah intervensi yang terbukti membantu, termasuk perawatan dengan
medikasi psikotropika, pendidikan khusus, terapi keluarga (yang berfokus pada upaya
memahami sifat dasar dari gangguan tersebut dan membantu orangtua dalam
menghadapi kecemasan mereka sendiri menyangkut gangguan tersebut) serta
psikoterapi individu dan behavioural therapy bagi sang anak.
2.
Persiapkan diri Anda menghadapi fakta bahwa anak-anak
penderita schizophrenia sangat mungkin akan membutuhkan sebuah
pendekatan yang beraneka segi, baik di rumah maupun saat menjalani psikoterapi,
dan Anda juga harus siap untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai bentuk
perawatan yang akan dijalani sang anak.
LIHAT JUGA
·
Gangguan Belajar
·
Gangguan Perilaku
·
Gangguian Bahasa
·
Bentuk-bentuk Terapi
·
Medikasi Psikotropika dan Anak-anak
·
Gangguan
·
Obsesif-Kompulsif
·
Autisme
·
Attention Deficit Disorder
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada dasarnya anak-anak yang menderita penyakit
Autis, Gangguan Ikatan, dan Schizophrenia memiliki cirri yang berbeda satu
dengan yang lainnya. Pada anak yang menderita penyakit Autis sejak awal terlihat
memiliki ketertarikan yang sangat kecil terhadap hubungan sosial dengan anak-anak
lain, suka menyendiri, tidak mampu berbagi, dan terlihat sama sekali tidak
tertarik dengan siapa saja. Pada anak yang menderita
penyakit Gangguan Ikatan memiliki sikap yang luar biasa
agresif, sulit mengendalikan perasaan, tak mampu mempertahankan perhatian atau
mudah teralihkan, dan sulit mengatasi rasa frustasi. Dan
anak yang menderita penyakit Schizophrenia melakukan gerakan-gerakan aneh,
disertai dengan tingkah laku yang ganjil, ekspresi wajah yang mengerikan, dan
gesture-gestur yang membuat penampilan mereka semakin sulit dimengerti. Maka
dari itu mulai dari sekarang kita seharusnya sudah mempelajari apa yang menjadi
cirri anak yang menderita penyakit tersebut.
B. Saran
Setiap
permasalahan tentu memiliki solusi. Demikian pula permasalahan yang dihadapi
anak, merupakan suatu cara bagi orangtua dan guru untuk belajar memberikan
solusi yang baik bagi proses tumbuh kembang anak-anak mereka. Semoga makalah
ini bermanfaat untuk semua orang.
DAFTAR PUSTAKA
Henry a.paul, M.D. 2008. Konseling dan Psikoterapi Anak. Sleman
Yogyakarta: idea publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar