Senin, 01 Oktober 2012

kebiasaan anak menghisap jari





IKIP WARNA










KEBIASAAN ANAK MENGHISAP JARI
Disusun Guna memenuhi Tugas Semester Gasal
Dosen Pengampu: Venty.S.Ag, M.Pd

Di susun oleh:
Karunia Nanda Septiani  (11110077)


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
IKIP PGRI SEMARANG
TAHUN 2011 / 2012



DAFTAR ISI

Daftar Isi ……………………………………………………………………………… 2
Kata Pengantar ………………………………………………………………………... 3
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………….  4
a.       Latar Belakang ………………………………………………………………… 4
b.      Perumusan Masalah …………………………………………………………… 5
c.       Tujuan …………………………………………………………………………. 5
d.      Manfaat ……………………………………………………... …………………5
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………. ………………… 6
a.       Menghisap Jari dapat Menurunkan Tingkat Kecerdasan Anak……………….. 7
b.      Cara Mengatasi Kebiasaan Menghisap Jari…………………………………… 7
c.       Cara agar Anak Menghentikan Kebiasaan Menghisap Jari…………………… 9
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………….. 11
a.       Kesimpulan…………………………………………………………………… 11
b.      Saran………………………………………………………………………….. 11
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………............................... 12









KATA PENGANTAR

Tak ada kata yang lebih mulia selain ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Serta tidak lupa juga sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi kita Rasulullah SAW. Yang mana beliau adalah uswatun hasanah kita dalam hidup ini.
Banyak kesulitan dan hambatan yang kami hadapi dalam  membuat tugas makalah  ini tapi dengan semangat dan kegigihan yang kami lakukan serta dorongan, arahan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga kami mampu menyelesaikan Tugas Makalah ini dengan baik, oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah banyak membantu.
Akhirnya tiada gading yang tak retak, kami menyadari hasil makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Untuk itu demi tercapainya kesempurnaan hasil makalah kami ini, kritik dan saran yang membangun senantiasa kami tunggu, semoga bermanfaat.













BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Setiap bayi dilahirkan dengan gerak reflek untuk menghisap. Dengan mulutnya ia akan melakukan kontak dengan dunia, dan secara naluriah pula akan berusaha menghisap segala sesuatu yang ditempelkan ke mulutnya. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa kebutuhan bayi untuk menghisap sudah dilakukan sejak bayi berada didalam kandungan.
            Semenjak anak masih kecil, peristiwa penerimaan makanan, dengan cara menghisap, memegang peranan penting yang selalu menimbulkan efek menenangkan serta menyenangkan.
            Sebelum menerima makanan, anak yang lapar merasakan adanya perasaan yang kurang enak pada perutnya yang keroncongan, namun sekejap kemudian, setelah menerima makanan, perasaan itupun hilang; mula-mula ia merasa tidak tentram, tetapi kemudian ia merasa tenang dan terlepas dari gangguan perasaan tadi; sebelum makan, ia merasa gelisah, tetapi sesudah makan, ia merasa dirinya aman. Jadi, perbuatan menghisap yang dilakukan pada waktu makan itu terangkaikan dengan rangkaian peristiwa yang lebih besar, yang bagi anak berarti kepuasan dan kesenangan. Dengan demikian bukanlah suatu kejadian yang  mengherankan kalau kemudian anak dapat mengetahui jalan atau cara-cara yang dapat memberikan kepadanya sebagian kepuasan yang diperolehnya dalam waktu menerima makanan tadi, yang dalam hal ini diperolehnya dengan cara menghisap jari.






B.     Perumusan Masalah
            Dalam pembahasan makalah ini akan dijelaskan beberapa hal:
1.      Apakah menghisap jari dapat menerunkan tingkat kecerdasan anak?
2.      Bagaimana cara mengatasi kebiasaan menghisap jari?
3.      Bagaimana cara agar anak dapat menghentikan kebiasaan menghisap jari?

C.    Tujuan
            Tujuan penulisan ini adalah supaya orangtua mengetahui kalau anak menghisap jari tidak mengherankan, sebaliknya itu termasuk gerak reflek pada anak.

D.    Manfaat
            Manfaat yang dapat diambil adalah orangtua mendapatkan pengetahuan tentang anak yang menghisap jari baik untuk perkembangan psikis anak.
















BAB II
PEMBAHASAN

            Dari penelitian mengenai sebab-sebab menghisap jari ini adalah:
·         Karena seorang anak tidak cukup lama menghisap minumannya.
·         Pada saat sebelum tidur sering menghisap ibu jari untuk menenangkan.
·         Keadaan terkejut, malu, takut, kagum.
Jadi, dapatlah dikatakan bahwa menghisap jari dengan segala modifikasi merupakan salah atu usaha yang primair menyalurkan ketegangan-ketegangan psikis pada suatu saat dalam situasi tertentu.
Banyak orangtua yang beranggapan bahwa menghisap jari itu hanya merupakan kebiasaan jorok saja, yang mesti dihentikan. Jadi, tingkah laku yang baru ini sudah memancing mereka untuk berjuang mati-matian mempertahankan kebutuhan orangtua dan kebutuhan si anak sendiri. Sebaiknya cobalah untuk melihat kebiasaan menghisap jari ini dari sudut pandang bayi, karena memaksa atau mendesakkan keinginan orangtua pada bayi hanya mengacaukan saja keinginan mereka dalam membina hubungan berdasarkan kepercayaan satu sama lain.
Memang, seorang anak tidak bisa terpuaskan hanya dengan makanan yang diterimanya. Bila seorang anak menghisap jarinya terus-menerus, usaha untuk melarang umumnya tidak akan berhasil. Barangkali ia merasa bahwa jarinya dapat memberikan kenikmatan tersendiri baginya. Kebiasaan semacam ini sering dilakukan anak pada saat-saat menjelang tidurnya. Jika anak sudah tahu bahwa cara ini dapat menimbulkan kepuasan, maka ia akan mengulangi kebiasaan tersebut setiap saat.





A.   Menghisap Jari dapat Menurunkan Tingkat Kecerdasan Anak?
      Banyak orangtua yang menganggap kebiasaan bayi menghisap jari adalah kebiasaan buruk. Bahkan, bagi sebagian orangtua kebiasaan tersebut dinilai nantinya dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak.
      Faktanya: sebenarnya hal yang wajar bila bayi menghisap jarinya. Setiap bayi normal pasti akan melakukan itu, terlebih bagi bayi yang baru lahir hingga 3 bulan. Hal ini malah menunjukkan bayi ini sehat dan normal karena reflek isap sudah seharusnya dimiliki bayi sejak lahir.
      Bayi menghisap jari bisa dikarenakan keadaan psikologisnya, misalnya lapar dan haus. Masalah timbul karena banyak orangtua risih melihat bayinya menghisap jari. Lantas mereka memberikan empeng dengan harapan bayi akan berhenti menghisap jarinya. Padahal, cara ini adalah cara yang salah. Empeng akan menyebabkan perut bayi kembung. Hal ini disebabkan banyaknya udara yang masuk ke perut bayi.
      Memang kebiasaan bayi menghisap jari bisa berdampak pada pertumbuhan gigi dan gusi karena permukaan jari cukup keras. Namun, Anda tak perlu cemas karena kebiasaan ini akan berhenti dengan sendirinya. Jadi, Anda tak perlu memaksakan bayi Anda untuk tidak menghisap jari. Apalagi sampai menarik jari bayi Anda keluar dari mulutnya. Hal ini akan menimbulkan frustasi pada si bayi. Kemudian, ia akan menghisap jarinya untuk menghilangkan rasa frustasi. Sampai usia 7 bulan bayi menghisap jarinya masih dianggap wajar


B.   Cara Mengatasi Kebiasaan Menghisap Jari
     Apabila pada hari itu anak dapat menghentikan kebiasaan menghisap jari, dia dapat menempelkan stiker kesukaan pada papan penghargaan. Setelah terkumpul 20 stiker, anak dapat memilih untuk melakukan kegiatan yang disukainya bersama orangtua. Selain itu, berikan pujian setiap kali anak menunjukkan perilaku yang diharapkan yaitu, tidak menghisap jari.

      Sementara itu, psikolog Sofie Balgies mengatakan ada beberapa kasus anak yang suka menghisap jari adalah anak yang tidak mendapatkan ASI pada masa bayinya.  Memberikan ASI pada masa bayi tidak hanya baik untuk kesehatan anak, namun juga dapat memenuhi hasrat anak untuk mencari kenikmatan di daerah mulutnya. Selain itu anak juga dapat merasakan kehangatan ibu dari kegiatan menyusui ini. Jika anak tidak diberi ASI, itu berarti fase anak tidak terpenuhi. Maka sebagai kompensasinya, anak mencari kenikmatan lain dengan cara menghisap jari. Dengan menghisap jari anak mendapat kenikmatan pada daerah mulut yang dulu tidak ia dapatkan.
      Sedangkan menurut psikolog Betty, orangtua sebenarnya tidak perlu terlalu cemas, karena kebiasaan menghisap jari akan berhenti dengan sendirinya. Namun dengan catatan, anak tumbuh dengan lingkungan yang meyenangkan. Jadi anak tidak perlu dipaksa untuk berhenti menghisap jari, apalagi sampai jarinya ditarik dari mulutnya. Justru kalau dipaksakan, ia akan lebih frustasi dan akan lebih giat menghisap jari demi mengatasi rasa frustasinya. Lebih baik biarkan dulu orangtua perlu memberi tolerensi agar anak dapat memenuhi kebutuhan menghisapnya. Nantinya, kebiasaan menghisap jari akan berhenti sendiri jika si anak memperoleh rasa nyaman dari jempolnya.
      Walau begitu, tetap saja orangtua tak boleh memaksakan anak untuk langsung menghentikan kebiasaannya. Cobalah dengan mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain yang menarik dia misalnya, ciptakan permainan dengan tangan atau jari, seperti bermain tepuk tangan. Dan tentunya permainan ini berkesan untuknya.








C.   Beberapa Cara agar Anak Bisa Menghentikan Kebiasaan Menghisap Jari
     Jenn Berman dan dr. Robert Anderson (psikolog California) memberikan beberapa cara:
1.      Usahakan Anda membatasi waktu anak menghisap jarinya.
2.      Jangan jadikan masalah ini sebagai bahan pertengkaran.
3.      Komunikasikan pada anak soal kebiasaannya itu.
4.      Bangun kesadaran anak.
5.      Lakukan cara-cara kreatif untuk membuat anak paham kalau mereka sudah besar dan suatu hari nanti tidak akan menghisap jarinya lagi.


Tips Menanggulangi Kebiasaan Anak Menghisap Jempol
                        Hampir 80% bayi mempunyai kebiasaan menghisap jempol atau jari lainnya. Biasanya keadaan ini terjadi sampai bayi berusia 18 bulan. Terkadang masih dijumpai pada anak usia prasekolah bahkan sampai berusia 6 tahun ke atas. Sebagian besar anak yang mempunyai kebiasaan menghisap jempol mempunyai objek atau barang yang sering dipegang seperti selimut, maianan, serpihan baju atau rambut mereka sendiri. Ada pendapat yang menyatakan bahwa menghisap jempol karena kebiasaan dari kecil. Pendapat lain mengatakan bahwa menghisap jempol berarti memuaskan diri sendiri yang dapat menghilangkan stress dan menenangkannya.







                        Beberapa masalah yang dapat ditimbulkan akibat kebiasaan menghisap jempol:
1.      Masalah gigi, bila kebiasaan ini bertahan sampai umur 4 tahun maka akan menyebabkan maloklusi gigi susu dan permanen, juga dapat menyebabkan masalah pada tulang-tulang disekitar mulut.
2.      Jari abnormal, dengan penghisapan yang terus menerus terjadi hiperekstensi jari, terbentuk kalus, iritasi, eksema, dan paronikia (jamur kuku).
3.      Efek psikologis pada anak akan menimbulkan menurunnya kepercayaan diri anak karena anak sering diejek oleh saudara atau orangtuanya.
4.      Keracunan tidak disengaja, anak yang menghisap jempol, terpapar tinggi terhadap keracunan yang tidak disengaja, misalnya keracunan Pb.
5.      Risiko infeksi saluran cerna meningkat

                        Intervensi yang dapat dilakukan orangtua yaitu:
1)      Mengetahui penyebab
2)      Menguatkan anak

Bila kebiasaan ini menetap setelah anak berumur 4 tahun maka mulai dilakukan intervensi dengan modifikasi perilaku dan beberapa cara pendekatan positif yaitu:
v Mengingatkan anak F catatan atau kalender yang menyatakan keberhasilan anak tidak menghisap jempol atu jari lainnya.
v Hadiah F stiker, buku cerita, perilaku khusus, atau waktu berlibur dengan orangtua bila anak bebas menghisap satu hari.
v Menghargai F menghargai anak-anak bila tidak menghisap jempol atau jari lainnya.
v Memberikan zat yang pahit F diberikan pada jempol pada waktu pagi, malam, dan waktu anak mulai menghisap jempol.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
           Bahwa menghisap jari pada umumnya tidak menurunkan tingkat kecerdasan anak, karena dengan menghisap jari anak dapat dikatakan normal sebab itu hal yang wajar bagi si anak untuk mendapatkan kepuasan tersendiri. Dan memberikan rasa nyaman  dan memberikan efek menenangkan dan menyenangkan.
B.     Saran
                  Sebaiknya kita sebagai orangtua tidak melarang anak untuk menghisap jari dikarenakan menghisap jari dengan segala modifikasi merupakan salah satu usaha yang primair menyalurkan ketegangan-ketegangan psikis pada suatu saat dalam situasi tertentu.
     
     










DAFTAR PUSTAKA

§  Sobur, Alex. 1985. Komunikasi Orang Tua dan Anak. Bandung: Angkasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar