KEBIASAAN ANAK MENGHISAP JARI
Disusun Guna memenuhi Tugas Semester Gasal
Dosen Pengampu: Venty.S.Ag, M.Pd
Di susun oleh:
Karunia Nanda Septiani (11110077)
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
IKIP
PGRI SEMARANG
TAHUN
2011 / 2012
DAFTAR ISI
Daftar
Isi ……………………………………………………………………………… 2
Kata
Pengantar ………………………………………………………………………... 3
BAB
I PENDAHULUAN ……………………………………………………………. 4
a. Latar Belakang ………………………………………………………………… 4
b. Perumusan Masalah …………………………………………………………… 5
c. Tujuan …………………………………………………………………………. 5
d. Manfaat ……………………………………………………... …………………5
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………. ………………… 6
a.
Menghisap Jari dapat Menurunkan
Tingkat Kecerdasan Anak……………….. 7
b.
Cara Mengatasi Kebiasaan Menghisap
Jari…………………………………… 7
c.
Cara agar Anak Menghentikan
Kebiasaan Menghisap Jari…………………… 9
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………….. 11
a.
Kesimpulan……………………………………………………………………
11
b.
Saran…………………………………………………………………………..
11
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………...............................
12
KATA PENGANTAR
Tak ada kata yang lebih mulia selain ungkapan rasa syukur kita
kepada Allah SWT. Serta tidak lupa juga sholawat dan salam tetap tercurahkan
kepada junjungan Nabi kita Rasulullah SAW. Yang mana beliau adalah uswatun
hasanah kita dalam hidup ini.
Banyak
kesulitan dan hambatan yang kami hadapi dalam
membuat tugas makalah ini tapi
dengan semangat dan kegigihan yang kami lakukan serta dorongan, arahan,
bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga kami mampu menyelesaikan
Tugas Makalah ini dengan baik, oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih
pada semua pihak yang telah banyak membantu.
Akhirnya tiada gading yang tak retak, kami menyadari hasil makalah
kami ini masih jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah
semata. Untuk itu demi tercapainya kesempurnaan hasil makalah kami ini, kritik
dan saran yang membangun senantiasa kami tunggu, semoga bermanfaat.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap bayi dilahirkan dengan gerak
reflek untuk menghisap. Dengan mulutnya ia akan melakukan kontak dengan dunia,
dan secara naluriah pula akan berusaha menghisap segala sesuatu yang
ditempelkan ke mulutnya. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa kebutuhan bayi
untuk menghisap sudah dilakukan sejak bayi berada didalam kandungan.
Semenjak anak masih kecil, peristiwa
penerimaan makanan, dengan cara menghisap, memegang peranan penting yang selalu
menimbulkan efek menenangkan serta menyenangkan.
Sebelum menerima makanan, anak yang
lapar merasakan adanya perasaan yang kurang enak pada perutnya yang
keroncongan, namun sekejap kemudian, setelah menerima makanan, perasaan itupun
hilang; mula-mula ia merasa tidak tentram, tetapi kemudian ia merasa tenang dan
terlepas dari gangguan perasaan tadi; sebelum makan, ia merasa gelisah, tetapi
sesudah makan, ia merasa dirinya aman. Jadi, perbuatan menghisap yang dilakukan
pada waktu makan itu terangkaikan dengan rangkaian peristiwa yang lebih besar,
yang bagi anak berarti kepuasan dan kesenangan. Dengan demikian bukanlah suatu kejadian
yang mengherankan kalau kemudian anak
dapat mengetahui jalan atau cara-cara yang dapat memberikan kepadanya sebagian
kepuasan yang diperolehnya dalam waktu menerima makanan tadi, yang dalam hal
ini diperolehnya dengan cara menghisap jari.
B.
Perumusan Masalah
Dalam pembahasan makalah ini akan dijelaskan beberapa hal:
1.
Apakah menghisap jari dapat
menerunkan tingkat kecerdasan anak?
2.
Bagaimana cara mengatasi kebiasaan
menghisap jari?
3.
Bagaimana cara agar anak dapat
menghentikan kebiasaan menghisap jari?
C.
Tujuan
Tujuan penulisan ini adalah supaya orangtua mengetahui kalau
anak menghisap jari tidak mengherankan, sebaliknya itu termasuk gerak reflek
pada anak.
D.
Manfaat
Manfaat yang dapat diambil adalah orangtua mendapatkan
pengetahuan tentang anak yang menghisap jari baik untuk perkembangan psikis
anak.
BAB II
PEMBAHASAN
Dari penelitian mengenai sebab-sebab
menghisap jari ini adalah:
·
Karena seorang anak tidak cukup lama
menghisap minumannya.
·
Pada saat sebelum tidur sering menghisap
ibu jari untuk menenangkan.
·
Keadaan terkejut, malu, takut,
kagum.
Jadi, dapatlah dikatakan bahwa menghisap jari dengan segala
modifikasi merupakan salah atu usaha yang primair menyalurkan
ketegangan-ketegangan psikis pada suatu saat dalam situasi tertentu.
Banyak orangtua yang beranggapan bahwa menghisap jari itu
hanya merupakan kebiasaan jorok saja, yang mesti dihentikan. Jadi, tingkah laku
yang baru ini sudah memancing mereka untuk berjuang mati-matian mempertahankan kebutuhan
orangtua dan kebutuhan si anak sendiri. Sebaiknya cobalah untuk melihat
kebiasaan menghisap jari ini dari sudut pandang bayi, karena memaksa atau
mendesakkan keinginan orangtua pada bayi hanya mengacaukan saja keinginan
mereka dalam membina hubungan berdasarkan kepercayaan satu sama lain.
Memang, seorang anak tidak bisa terpuaskan hanya dengan
makanan yang diterimanya. Bila seorang anak menghisap jarinya terus-menerus,
usaha untuk melarang umumnya tidak akan berhasil. Barangkali ia merasa bahwa
jarinya dapat memberikan kenikmatan tersendiri baginya. Kebiasaan semacam ini
sering dilakukan anak pada saat-saat menjelang tidurnya. Jika anak sudah tahu
bahwa cara ini dapat menimbulkan kepuasan, maka ia akan mengulangi kebiasaan
tersebut setiap saat.
A. Menghisap Jari dapat Menurunkan
Tingkat Kecerdasan Anak?
Banyak orangtua yang menganggap kebiasaan bayi menghisap
jari adalah kebiasaan buruk. Bahkan, bagi sebagian orangtua kebiasaan tersebut
dinilai nantinya dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak.
Faktanya: sebenarnya hal yang wajar bila
bayi menghisap jarinya. Setiap bayi normal pasti akan melakukan itu, terlebih
bagi bayi yang baru lahir hingga 3 bulan. Hal ini malah menunjukkan bayi ini
sehat dan normal karena reflek isap sudah seharusnya dimiliki bayi sejak lahir.
Bayi menghisap jari bisa dikarenakan
keadaan psikologisnya, misalnya lapar dan haus. Masalah timbul karena banyak
orangtua risih melihat bayinya menghisap jari. Lantas mereka memberikan empeng
dengan harapan bayi akan berhenti menghisap jarinya. Padahal, cara ini adalah
cara yang salah. Empeng akan menyebabkan perut bayi kembung. Hal ini disebabkan
banyaknya udara yang masuk ke perut bayi.
Memang kebiasaan bayi menghisap jari bisa
berdampak pada pertumbuhan gigi dan gusi karena permukaan jari cukup keras.
Namun, Anda tak perlu cemas karena kebiasaan ini akan berhenti dengan
sendirinya. Jadi, Anda tak perlu memaksakan bayi Anda untuk tidak menghisap
jari. Apalagi sampai menarik jari bayi Anda keluar dari mulutnya. Hal ini akan
menimbulkan frustasi pada si bayi. Kemudian, ia akan menghisap jarinya untuk
menghilangkan rasa frustasi. Sampai usia 7 bulan bayi menghisap jarinya masih
dianggap wajar
B. Cara Mengatasi Kebiasaan Menghisap
Jari
Apabila pada hari itu anak dapat menghentikan kebiasaan
menghisap jari, dia dapat menempelkan stiker kesukaan pada papan penghargaan.
Setelah terkumpul 20 stiker, anak dapat memilih untuk melakukan kegiatan yang
disukainya bersama orangtua. Selain itu, berikan pujian setiap kali anak
menunjukkan perilaku yang diharapkan yaitu, tidak menghisap jari.
Sementara itu, psikolog Sofie Balgies
mengatakan ada beberapa kasus anak yang suka menghisap jari adalah anak yang
tidak mendapatkan ASI pada masa bayinya.
Memberikan ASI pada masa bayi tidak hanya baik untuk kesehatan anak,
namun juga dapat memenuhi hasrat anak untuk mencari kenikmatan di daerah
mulutnya. Selain itu anak juga dapat merasakan kehangatan ibu dari kegiatan
menyusui ini. Jika anak tidak diberi ASI, itu berarti fase anak tidak
terpenuhi. Maka sebagai kompensasinya, anak mencari kenikmatan lain dengan cara
menghisap jari. Dengan menghisap jari anak mendapat kenikmatan pada daerah
mulut yang dulu tidak ia dapatkan.
Sedangkan menurut psikolog Betty, orangtua
sebenarnya tidak perlu terlalu cemas, karena kebiasaan menghisap jari akan
berhenti dengan sendirinya. Namun dengan catatan, anak tumbuh dengan lingkungan
yang meyenangkan. Jadi anak tidak perlu dipaksa untuk berhenti menghisap jari,
apalagi sampai jarinya ditarik dari mulutnya. Justru kalau dipaksakan, ia akan
lebih frustasi dan akan lebih giat menghisap jari demi mengatasi rasa
frustasinya. Lebih baik biarkan dulu orangtua perlu memberi tolerensi agar anak
dapat memenuhi kebutuhan menghisapnya. Nantinya, kebiasaan menghisap jari akan
berhenti sendiri jika si anak memperoleh rasa nyaman dari jempolnya.
Walau begitu, tetap saja orangtua tak
boleh memaksakan anak untuk langsung menghentikan kebiasaannya. Cobalah dengan
mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain yang menarik dia misalnya, ciptakan
permainan dengan tangan atau jari, seperti bermain tepuk tangan. Dan tentunya
permainan ini berkesan untuknya.
C. Beberapa Cara agar Anak Bisa
Menghentikan Kebiasaan Menghisap Jari
Jenn Berman dan dr. Robert Anderson (psikolog California)
memberikan beberapa cara:
1.
Usahakan Anda membatasi waktu anak
menghisap jarinya.
2.
Jangan jadikan masalah ini sebagai
bahan pertengkaran.
3.
Komunikasikan pada anak soal
kebiasaannya itu.
4.
Bangun kesadaran anak.
5.
Lakukan cara-cara kreatif untuk
membuat anak paham kalau mereka sudah besar dan suatu hari nanti tidak akan
menghisap jarinya lagi.
Tips Menanggulangi Kebiasaan Anak Menghisap Jempol
Hampir 80% bayi mempunyai kebiasaan menghisap jempol atau
jari lainnya. Biasanya keadaan ini terjadi sampai bayi berusia 18 bulan.
Terkadang masih dijumpai pada anak usia prasekolah bahkan sampai berusia 6
tahun ke atas. Sebagian besar anak yang mempunyai kebiasaan menghisap jempol
mempunyai objek atau barang yang sering dipegang seperti selimut, maianan,
serpihan baju atau rambut mereka sendiri. Ada pendapat yang menyatakan bahwa
menghisap jempol karena kebiasaan dari kecil. Pendapat lain mengatakan bahwa
menghisap jempol berarti memuaskan diri sendiri yang dapat menghilangkan stress
dan menenangkannya.
Beberapa masalah yang
dapat ditimbulkan akibat kebiasaan menghisap jempol:
1.
Masalah gigi, bila kebiasaan ini
bertahan sampai umur 4 tahun maka akan menyebabkan maloklusi gigi susu dan
permanen, juga dapat menyebabkan masalah pada tulang-tulang disekitar mulut.
2.
Jari abnormal, dengan penghisapan yang
terus menerus terjadi hiperekstensi jari, terbentuk kalus, iritasi, eksema, dan
paronikia (jamur kuku).
3.
Efek psikologis pada anak akan
menimbulkan menurunnya kepercayaan diri anak karena anak sering diejek oleh
saudara atau orangtuanya.
4.
Keracunan tidak disengaja, anak yang
menghisap jempol, terpapar tinggi terhadap keracunan yang tidak disengaja,
misalnya keracunan Pb.
5.
Risiko infeksi saluran cerna
meningkat
Intervensi yang dapat
dilakukan orangtua yaitu:
1)
Mengetahui penyebab
2)
Menguatkan anak
Bila kebiasaan ini menetap setelah anak berumur 4 tahun maka
mulai dilakukan intervensi dengan modifikasi perilaku dan beberapa cara
pendekatan positif yaitu:
v
Mengingatkan anak F catatan atau kalender yang menyatakan keberhasilan anak
tidak menghisap jempol atu jari lainnya.
v
Hadiah F stiker, buku cerita, perilaku khusus, atau waktu berlibur
dengan orangtua bila anak bebas menghisap satu hari.
v
Menghargai F menghargai anak-anak bila tidak menghisap jempol atau jari
lainnya.
v
Memberikan zat yang pahit F diberikan pada jempol pada waktu pagi, malam, dan waktu
anak mulai menghisap jempol.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bahwa menghisap jari pada umumnya
tidak menurunkan tingkat kecerdasan anak, karena dengan menghisap jari anak
dapat dikatakan normal sebab itu hal yang wajar bagi si anak untuk mendapatkan
kepuasan tersendiri. Dan memberikan rasa nyaman
dan memberikan efek menenangkan dan menyenangkan.
B.
Saran
Sebaiknya kita sebagai
orangtua tidak melarang anak untuk menghisap jari dikarenakan menghisap jari
dengan segala modifikasi merupakan salah satu usaha yang primair menyalurkan
ketegangan-ketegangan psikis pada suatu saat dalam situasi tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
§
Sobur, Alex. 1985. Komunikasi Orang Tua dan Anak. Bandung:
Angkasa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar